Awak Mahasiswa ITS Rancang Pengolahan Limbah Domestik Tanpa Emisi

Awak Mahasiswa ITS Rancang Pengolahan Limbah Domestik Tanpa Emisi
Oct 26 2020
Kenneth Ross
JAKARTA Pengolahan limbah domestik di Indonesia hingga saat ini belum terlalu diperhatikan. Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang sebuah instalasi pengolahan limbah air (IPAL) limbah domestik tanpa emisi (zero emission).

Tidak hanya mengolah limbah, IPAL yang diusung tim mahasiswa bernama Grisse ini juga difungsikan jadi media pemberdayaan masyarakat di RT 19/RW 02, Kroman, Gresik. Kepala tim Grisse, Mas Den Rum menjelaskan bahwa IPAL yang dirancang timnya mampu mengolah limbah domestik sekaligus, baik jenis grey water maupun black water. (Baca juga: Kejar Ketertinggalan, Menko PMK: Pembangunan Kepemudaan Perlu Diperkuat)

Grey water adalah air limbah dari kesibukan rumah tangga nonkakus seperti membakar atau mencuci. Sedangkan black water adalah air limbah dari kegiatan kakus. “Biasanya black water ditampung di septic tank, sedangkan grey water langsung dibuang ke badan air, ” terangnya.

Menurut Deni, sapaan akrabnya, perlakuan terhadap limbah ini seringkali menimbulkan masalah. Ia memberi contoh, seringkali terjadi kebocoran septic tank di pengolahan black water. Akibatnya, air tanah sering tercemari rembesan septic tank dan juga pencemaran suasana akibat gas metana.

Mengucapkan Juga:

Selanjutnya, Deni memaparkan, pengolahan limbah pada IPAL rancangan timnya melibatkan beberapa tahap. Tahap pertama adalah menampung limbah. Dikatakan Deni, tahap ini bertujuan untuk mencampur black water dan grey water serta memantapkan debit limbah ke tahap kemudian. “Kemudian pengolahan dilanjutkan ke unit Integrated Anaerobic-Aerobic Sequencing Batch Reactor (IAASBR), ” paparnya. (Baca juga: Ini Penjelasan Pengajar IPB tentang Bedanya Suplemen, Obat dan Bahan Pangan)

Deni mengungkapkan bahwa dalam unit ini terdapat mekanisme aerobik dan anaerobik. Menurut Deni, pengerjaan limbah dengan dua mekanisme sekali lalu ini lebih efektif. Pasalnya, kalau diolah dengan mekanisme anaerobik selalu, maka hasil pengolahan belum memenuhi baku mutu untuk dibuang ke badan air.

Sesudah keluar dari unit ini, Deni menjelaskan bahwa air sudah menutup baku mutu air limbah untuk dibuang ke badan air. Tetapi, alih-alih melakukan hal tersebut, Deni bersama tim memutuskan untuk menggunakan air limbah yang dihasilkan. “Tidak hanya itu, kami memanfaatkan kembali semua emisi yang dihasilkan bagian pengolahan limbah, ” imbuhnya.

Deni menjabarkan, emisi tersebut adalah air pengolahan limbah, lumpur, dan udara metan. Tim melakukan disinfektasi di dalam air hasil pengolahan limbah untuk membunuh bakteri berbahaya. “Kemudian minuman ini kami tampung untuk menyiram tanaman dan mencuci kendaraan warga, ” sebut mahasiswi berkacamata ini.

Emisi selanjutnya adalah lumpur. Deni memaparkan, unit pengolahan biologis seperti yang diusulkan biasanya menghasilkan lumpur sebagai hasil kemerosotan polutan. Maka, timnya memanfaatkan lendut tersebut untuk pembuatan kompos. Berhubungan tim, Deni merancang sendiri drum-drum pengolahan kompos yang mudah dioperasikan. “Kami juga menambahkan daun-daun biasa pada pembuatan kompos secara aerobik di drum tersebut, ” ujarnya.

Emisi terakhir dengan dimanfaatkan adalah gas metan. Udara ini disebutkan Deni juga dihasilkan dari unit IAASBR. Ia meneruskan, ketika gas metan sudah memenuhi standar pembuatan biogas, maka gas akan ditangkap dan ditampung. “Selanjutnya kami memberdayakan masyarakat untuk mendistribusikan biogas dengan sistem arisan, ” jelasnya.

Tidak terbengkalai, rancangan yang diusung bersama Ahmad Nailul Firdaus, Akhmad Zadhni Nashruddin, Diah Ayu Sentani, serta Ririn Triyanita ini mampu meraih penghargaan Favorite Landscape kategori Limbah Pribumi dalam ajang Lomba Desain IPAL 2020 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan, Agustus lalu.

Berita Terkait

preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!