Bush: Iran Berbahaya Bagi Perdamaian Dunia dengan Menargetkan Israel

May 19 2021
Kenneth Ross

WASHINGTON – Mantan pemimpin Amerika Serikat (AS), George W. Bush mengatakan, Iran “berbahaya” bagi stabilitas di Timur Tengah dan dunia. Menurut Bush, Iran berusaha untuk ‘memutuskan aliansi’ yang dibentuk selama pemerintahan Donald Trump.

Dalam wawancara eksklusif secara Fox News tentang wacana barunya, “Out of Many, One: Portraits of America’s Immigrants, ” Bush menyoroti kisah Mariam Memarsadeghi awut-awutan seorang imigran Iran yang, selama Revolusi Iran 1979, datang ke AS & telah mendedikasikan karirnya buat mengejar demokrasi di Iran.

Ketika ditanya tentang kekerasan Israel-Palestina yang sedang berlangsung, Bush mengutarakan bahwa apa yang kita saksikan saat ini adalah pengaruh Iran yang ditargetkan ke Israel.

Baca Juga:

Mengucapkan juga: Iran di Pulih Hebatnya Rudal Hamas Hancur Iron Dome Israel & Jangkau Tel Aviv

“Saya pikir pendekatan terbaik berselirat dengan Iran adalah buat memahami bahwa pengaruh itu berbahaya bagi perdamaian negeri, bahwa mereka sangat berperan dengan gerakan ekstremis dalam Lebanon dan Suriah serta Yaman, dan mereka berniat untuk menyebarkan pengaruh itu, ” kata Bush kepada Fox News, ketika ditanya tentang bagaimana AS kudu terlibat dengan Teheran.

“Setiap kesepakatan yang dilakukan tidak hanya fokus pada kemampuan nuklirnya, namun juga pengaruhnya di Timur Tengah, ” lanjut Bush.

“Dan tahukah Anda, kesepakatan apa pun, Anda harus menetapi bahaya Iran yang bernafsu terhadap sekutu kami, & stabilitas, jadi itu harus dilihat secara menyeluruh, ” ujarnya seperti dikutip sejak Fox News , Kamis (20/5/2021).

Hubungan antara AS dan Iran berada di titik nadir setelah bekas Presiden AS Donald Trump secara sepihak memutuskan muncul dari perjanjian nuklir 2015 yang ditandatangani Iran dengan sejumlah negara Super Power dan Uni Eropa. Kiprah itu diikuti dengan penjatuhan sejumlah sanksi dengan memakai serukan “sanksi maksimum”.

Iran pun bereaksi dengan menanggalkan sebagian keyakinan perjanjian yang dibuat buat membatasi proyek nuklir Iran. Teheran selama ini mengklaim bahwa proyek nuklirnya tersebut bertujuan damai.

Pasca lengsernya Trump, tadbir AS dibawah Presiden Joe Biden mencoba untuk mendalam kembali dalam perjanjian tersebut. Sejauh ini, baik Iran maupun AS, sama-sama memberikan kesan positif atas persetujuan yang tengah berlangsung.

Baca juga: AS Siap Lakukan Segalanya untuk Cegah Iran Mencapai Bom Nuklir

Seiring Presiden Joe Biden mengeksplorasi prospek AS kembali ke perjanjian nuklir 2015 yang ditinggalkan oleh pendahulunya Donald Trump, Israel telah meningkatkan teriakan pembatasan yang lebih mulia untuk dikenakan pada teknologi dan proyek Iran yang sensitif. Israel menegaskan kalau negara itu tidak tersekat oleh diplomasi dan konflik dengan Teheran pasti bakal mengikuti kesepakatan itu.

Bayangan akan konflik antara Iran dan Israel terus terjadi di Timur Tengah. Kedua belah bagian sering menyalahkan satu sebanding lain atas insiden dengan tidak diklaim seperti pukulan yang tampaknya menimpa kapal-kapal milik kedua negara di Laut Merah dalam kurang bulan terakhir.

Iran juga menuduh Israel melakukan upaya klandestin buat mengganggu program nuklirnya, seperti pembunuhan seorang ilmuwan nuklir terkemuka pada November morat-marit dan pemadaman listrik dengan melanda fasilitas utama pada Natanz bulan lalu. Para-para pejabat Iran menyatakan program nuklir mereka tidak pernah dimaksudkan untuk menghasilkan senjata pemusnah massal, tetapi para-para pejabat Israel meragukan peristiwa ini dan menentang kembalinya AS ke perjanjian nuklir.

Membaca juga: Bos Garda Revolusi Iran Telepon Pimpinan Hamas, Puji Serangan terhadap Israel