Dalang Laut Besar Itu Bernama Pasuruan

Dalang Laut Besar Itu Bernama Pasuruan
Nov 28 2020
Kenneth Ross

Terik mentari, begitu keras siang itu. Suasana panas pesisir , menjadi teman para buruh yang sedang berpeluh mengangkut ratusan karung berisi pupuk. Tak peduli kulitnya terbakar mentari, para buruh berbadan kekar tersebut dengan semangat mengosongkan isi menyanjung-nyanjung kapal.

(Baca pula: Mas-mas TRIP Berjuang Hingga Hari penghabisan… )

Langkah-langkah kaki para buruh beradu lekas dengan datangnya suara azan duhur yang berkumandang dari masjid pada tengah kampung padat. Saat bang berkumandang, ratusan karung putih itu telah berpindah dari lambung kapal kayu ke bak truk yang jadi berjalan ke tengah kota.

Beberapa nelayan yang ada di sekitarnya, nampak lebih giat dengan alat pemotong dan penghalus kayu, serta aroma cat bercampur tiner yang menyengat. Mereka memperbaiki kapal kayu itu, agar tak kandas dihantam gelombang samudera.

Menangkap Juga:

Anak-anak nelayan, begitu riang bermain dalam air dermaga yang nampak menghijau berpadu dengan air sungai yang melaju ke laut. Mereka berlompatan lantaran ujung perahu, dan menghempaskan badannya ke air dermaga.

(Baca juga: Dwarapala Saksi Bisu Ketangguhan Desa Menjaga Arjuna)

Sementara banyak orang ibu-ibu nampak bersantai, melepas uang bersandar di tiang-tiang kayu prinsip rumahnya, sambil menunggu jemuran ikan-ikan kecil yang telah dibelah & diurapi garam untuk menjadi ikan asin.

Aktivitas siang yang tidak begitu penat, di antara perkataan deru mesin perahu kelotok yang baru pulang melaut di tepian untuk mencari ikan, dan gudang-gudan besar yang pintunya tertutup rapat.