Dipajaki Negara 10%, Harga Beli Game di Steam Diklaim Tidak Terbang

Dipajaki Negara 10%, Harga Beli Game di Steam Diklaim Tidak Terbang
Jul 05 2020
Kenneth Ross

loading…

JAKARTA – Sejak 1 Juli kemarin, Steam telah menerapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% buat setiap pembelian game melalui layanannya dalam Indonesia . Namun pajak tersebut ternyata tidak dikenakan kepada pembeli. (Baca juga: Pengenaan Pajak Digital, Nusantara Sudah Kalah Start )

Ini merupakan kabar indah bagi para gamer . Sebab, harga yang dibayarkan oleh pembeli tetap sama, tidak ada penambahan 10% dari makna normal.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Steam, dikutip dalam Minggu (5/7/2020). Melalui laman berdiskusi, Steam menjelaskan, pihaknya memang sudah mengenakan pajak 10% dari di setiap transaksi di store miliknya. Namun layanan milik Valve itu memiliki kebijakan sendiri.

Baca Juga:

Jadi, setiap negara yang mengakar ke dalam pajak inclusive , harga jual dengan ditampilkan tidak mengalami kenaikan. Patuh kebijakan Steam, semua pajak dengan diterapkan akan dibayar oleh pengembang atau publisher game .

Artinya setiap keuntungan dari hasil penjualan game mereka akan dipotong secara otomatis. Sayangnya ini bukan kabar baik bagi pengembang dan publisher game yang menaruh game miliknya di Steam.

Tetapi, pengembang dan publisher masih diberikan kewenangan untuk menaikkan harga berniaga game miliknya. Jika harga yang diterapkan dirasa terlalu murah sehingga keuntungan menjadi kecil, mereka boleh mengubahnya.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah telah membuat aturan pengenaan pajak pada produk-produk digital yang beroperasi di Indonesia. Aturan itu tertuang dalam PMK Nomor 48/PMK. 03/2020, dan mulai diterapkan sejak satu Juli 2020. Aturan tersebut legal terhadap layanan streaming musik, film, aplikasi, hingga gambar game.

Sementara pada layanan Steam, banyak negeri lainnya sudah mengenakan pajak sejak 2015 sampai sekarang dengan angka yang berbeda-beda. Mulai 5% sampai yang tertinggi 27%.

(iqb)