Indonesia Resesi, Anak Buah Khusus Sri Mulyani: Itu Pra Kondisi Perbaikan

Indonesia Resesi, Anak Buah Khusus Sri Mulyani: Itu Pra Kondisi Perbaikan
Nov 07 2020
Kenneth Ross

JAKARTA kepala Pemerintah menegaskan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3, 49% secara year on year (yoy) merupakan prasyarat pemulihan ekonomi nasional pada 2021 mendatang. Itu karena ekonomi muncul positif 5, 05% secara quarter to quarter (qtq) bila dipadankan dengan pertumbuhan di kuartal II yang minus 5, 32%.

Staf Khusus Menteri Keuangan (Menkeu) Yustinus Prastowo mengatakan, kemajuan ekonomi 5, 05% (qtq) dalam periode tersebut membuat pihaknya optimis bila ekonomi semakin bergeliat terbang pada periode selanjutnya.

(Baca Juga: Resesi Hadir, Istana: Pemulihan Ekonomi Indonesia Berada di Trek yang Tepat)

Pertumbuhan yang diyakini akan positif itu sebab didorong oleh belanja pemerintah dengan mencapai 9, 8% pada kuartal ke-III tahun ini. Dengan begitu, diharapkan pada 2021 nanti pemulihan ekonomi nasional akan pulih bertemu dengan target pemerintah.

Baca Juga:

“Jika dibandingkan dengan kuartal III 2019 juga tumbuh positif, tersebut kabar baik, birokrasi juga mampu bekerja efisien dan efektif, itu terbukti dari belanja pemerintah yang tumbuh sangat bagus di kuartal III yang tumbuh 9, 8 persen dan diharapkan dengan akselerasi yang baik maka di kuartal IV menjadi prakondisi di 2021, ” ujarnya di Jakarta, Sabtu (7/11/2020).

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kondisi ekonomi pada kuartal III ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah yang dilakukan secara intensif pada upaya Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

(Baca Juga: Pemerintahan Jokowi yang Pertama Menyangga Perekonomian Nasional Saat Market Lumpuh)

Intervensi pemerintah dalam penanganan kesehatan telah mendorong kepercayaan yang kemudian memajukan aktivitas masyarakat. “Begitu pun intervensi pemerintah melalui program-program pemulihan ekonomi yang ditujukan untuk menahan cepat penurunan kinerja ekonomi, yang jadi menggerakkan konsumsi masyarakat dan investasi swasta, ” kata Airlangga.

Perbaikan ekonomi Indonesia dari sisi permintaan (demand) dibantu oleh pertumbuhan konsumsi pemerintah sejumlah 9, 8% (yoy). Hal itu menggambarkan upaya pemerintah dalam membakar perekonomian melalui program-program PEN.

Perbaikan juga terlihat di dalam sisi penawaran (supply). Terdapat sektor yang melejit tinggi setelah di triwulan sebelumnya tumbuh minus, yakni sektor transportasi dan pergudangan lahir 24, 28% dari -29, 18% di triwulan sebelumnya, sektor akomodasi dan makanan minuman tumbuh 14, 79% dibandingkan triwulan sebelumnya dalam posisi -22, 21%.

Lalu industri pengolahan tumbuh 5, 25% dari posisi minus 6, 29%, dan sektor perdagangan yang tumbuh 5, 68% dari kedudukan minus 6, 71% di triwulan sebelumnya.