Jika Hasil Rapid Test Reaktif, Bagaimana Status Peserta UTBK?

Jika Hasil Rapid Test Reaktif, Bagaimana Status Peserta UTBK?
Jul 03 2020
Kenneth Ross

loading…

SURABAYA – Para peserta Ujian Tulis Berbasis Jinjing (UTBK) masih kebingungan dengan susunan wajib membawa hasil rapid test sebelum ujian dilakukan. Termasuk serupa nasib peserta yang ternyata hasil rapid testnya reaktif.

Kepala Panitia Pusat UTBK Universitas Airlangga (Unair) Prof Junaidi Khotib mengucapkan, bagi peserta yang hasil rapid testnya dinyatakan reaktif, maka selanjutnya dilakukan rescheduling ulang jadwal teguran. Kemudian, peserta dirujuk ke pusat layanan kesehatan. Di sana ada Satgas COVID-19 yang akan menyelenggarakan penanganan. (Baca selalu: Kampus Ikuti Aturan Rapid Test Peserta UTBK, Ini Persiapannya)

“Kalau di Surabaya kan ada hotel yang nanti didampingi sama Dinas Kesehatan. Jika di luar daerah kami akan sampaikan ke Satgas COVID-19 setempat. Kami di Universitas akan hubungan dengan tempat asalnya. Dengan begitu seseorang itu akan segera mendapatkan tindakan lebih lanjut, ” logat Prof Junaidi, Jumat (3/7/2020).

Wakil Rektor IV Unair Surabaya ini menjelaskan, secara ijmal warga Kota Surabaya yang memasukkan UTBK di Surabaya, baik Unair, ITS maupun Unesa (Universitas Jati Surabaya), berjumlah sekitar 38%. Namun peserta dari Surabaya Raya yang meliputi, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik sekitar 68%. Sementara itu, 22% merupakan peserta dari luar Surabaya Raya di Jawa Timur.

“Sementara 8% (peserta) tersebar di 34 Provinsi. Tetapi dari provinsi yang tidak diberikan mobilitas ke Surabaya, mereka kami izinkan untuk mencatat pada pusat-pusat UTBK setempat yang mana mereka tinggal, ” kata Prof Junaidi.

Dia menjelaskan, pelaksanaan UTBK SBMPTN ini berlaku serentak di 74 lokasi dengan tersebar di beberapa wilayah Nusantara. Sedangkan di Surabaya sendiri, berlangsung di tiga PTN, yakni Unair, ITS dan UPN. Meski begitu, pihaknya telah menyiapkan tempat asing untuk menghindari terjadinya pengumpulan kawula.

“Misalnya Unair selain di tiga kampus, A B dan C itu kami menggunakan universitas Muhammadiyah Surabaya, Untag & Stiesia. Tujuannya agar tidak berlaku pengumpulan massa, ini diatur sebab proses pelaksanaan UTBK sudah dijalankan dengan protokol ketat ini tidak menimbulkan klaster baru, ” introduksi dia.

(nth)