Lakon Usman-Harun dan Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Lakon Usman-Harun dan Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Oct 18 2020
Kenneth Ross

JAKARTA – Agenda 18 Oktober 52 tahun awut-awutan menjadi salah satu peristiwa istimewa dalam perjalanan sejarah militer dalam Indonesia, khususnya terkait konfrotansi Indonesia-Malaysia.

Pada 18 Oktober 1968, dua orang prajurit Jajaran Komando Operasi (KKO) Angkatan Bahar, Usman bin Muhammad Ali serta Harun bin Said alias Tahir dieksekusi di tiang gantungan sebab Singapura (saat itu masih terlibat dengan Malaysia).

Usman dan Harun dianggap bersalah dengan tuduhan meledakkan bom pada pusat kota di Singapura. Kesibukan itu dilakukan keduanya saat terjadinya konfrontasi Indonesia dan Malaysia.

Dikutip dari laman TNI AL dan berbagai sumber, Usman dan Harun telah mati dalam usaha mempertahankan kedaulatan negara dan kehormatan bangsa. Hal tersebut terjadi di masa perjuangan Dwikora, ketika konfrontasi dengan Negara Malaysia. ( Baca juga: Jalan gugurnya Usman dan Harun )

Baca Juga:

Pada 31 Agustus 1957 berdiri negara Persemakmuran Malaya. Saat itu, negara Malaysia berpeluang untuk memperluas wilayahnya, karena pada saat bersamaan, Singapura ingin bergabung dalam persemakmuran, namun ditolak oleh Inggris.

Kemudian pada 16 September 1963 dibentuk persekutuan baru bernama Malaysia yang merupakan negara gabungan Singapura, Kalimantan Mengetengahkan (Sabah), dan Sarawak.

Kesultanan Brunei kendatipun ingin bersepakat dengan Malaysia, namun tekanan antitesis yang kuat lalu menarik diri. Alasan utama penarikan diri adalah Brunei merasa memiliki banyak sumber minyak, yang nanti akan jeblok ke pemerintahan pusat (Malaysia).

Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno sejak semula menentang keinginan Liga Malaya yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord. Presiden Soekarno menganggap pembentukan Federasi Malaysia sebagai “boneka Inggris” merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru mengikuti dukungan terhadap berbagai gangguan kebahagiaan dalam negeri dan pemberontakan dalam Indonesia.