Memahami Anak-anak Pemberani di Masa Rasulullah saw (1)

Memahami Anak-anak Pemberani di Masa Rasulullah saw (1)
Oct 17 2020
Kenneth Ross

Belum hilang dari sedeng peristiwa yang dialami Rangga, bujang berusia 9 tahun warga Kecamatan Birem Bayuen, Aceh Timur, Aceh yang membela ibunya ketika hendak diperkosa orang lain. Peristiwa itu mengajarkan kita tentang arti membela kehormatan dan berjihad di jalan Allah. Ustaz Abdul Somad mengecap Rangga seorang syuhada karena terbunuh membela keluarganya. ( Baca Juga: Ustaz Abdul Somad: Ananda Rangga, Engkau Mulia dengan Taraf Syahid )

Kisah kepahlawanan Rangga ini mengingatkan kita kepada sosok anak-anak pahlawan megak di masa Rasulullah صلى الله عليه وسلÙ. Meski masih betul belia, mereka adalah pahlawan dengan terdidik dengan keberanian yang luar biasa. Berikut ulasan kisah-kisah mereka. ( Baca Juga: Kehebatan Anak-anak Muda di Sekitar Rasulullah SAW )

Kala Perang Badar, ada dua wujud anak pemberani yang gugur syahid setelah berhasil menyungkurkan Abu Jahal, pemimpin kafir Quraisy yang dikenal sangat keras permusuhannya kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلÙ. Kisah kedua anak pemberani tersebut sangat mahsyur diceritakan dalam Sirah Nabawiyah. Keduanya bernama Mu’adz bin Amr, anak dari Amr bin Al-Jamuh, seorang sahabat dari Famili Salamah. Sedangkan Mu’awwidz bin Afra’ adalah anak dari seorang hawa bernama Afra’ binti Ubaid (ibu para syuhada). Kedua anak itu berasal dari Madinah.

Pada saat Rasulullah صلى الله عليه وسل٠mengumumkan teriakan berjihad kepada pemuda Muslim, Mu’adz dan Mu’awwidz radhiyallahu ‘anhuma tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sifat yang berkobar, keduanya menghadap Rasul untuk ikut berjuang di Perang Badar. Kala itu Mu’adz anyar berusia 14 tahun, sedangkan Mu’awwidz berusia 13 tahun. Kedua anak ini memiliki tubuh kuat sehingga Rasulullah menerima mereka untuk bergabung dalam pasukan Islam.

Baca Juga:

Sebelum kepala Abu Jahal dipenggal oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dua anak berusia belasan tahun itu terlebih dulu menggempur Abu Jahal. Mu’adz dan Mu’awwidz berhasil melumpuhkan Abu Jahal di tengah perang yang berkcamuk itu.

Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Konflik Badar aku berada di tengah barisan. Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiri ku menyembul dua orang yang masih sangat belia sekali. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku & berkata, ‘Paman, tunjukkan kepadaku mana Abu Jahal. ‘Kukatakan kepadanya, ‘Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya? ‘Anak itu kembali berkata, ‘Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah. Aku pun berjanji kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya. Aku pun tercengang takjub dibuatnya. Lalu yang satunya sedang mengedipkan mata kepadaku dan mengutarakan hal yang sama kepadaku. Seketika tersebut aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Hamba berkata, ‘Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi. ‘ Mereka pun saling berlaga mengayunkan pedangnya hingga keduanya lulus membunuh Abu Jahal. ” (HR Al-Bukhari)

Dalam konflik itu, Muadz dan Mu’awwidz bagaikan dua anak panah yang melesat lepas dari busur. Keduanya mangkir menembus 10 barisan pasukan pantat yang melindungi Abu Jahal. Keduanya menembus pasukan berlapis itu serta berhasil berhadapan langsung dengan Serbuk Jahal. Keduanya menebaskan pedangnya ke paha Abu Jahal hingga menyebabkannya tersungkur dari atas kuda. ( Baca Juga: Sebelum Dipancung, Dua Anak Muda Lukai Awak Abu Jahal )

Mu’awwidz yang menebas paha Abu Jahal kemudian tak bisa lepas dibanding senjata para penjaga Abu Jahal sehingga membuatnya gugur secara sahid. Sedangkan Mu’adz berhasil lolos dari kepungan musuh dengan satu tangannya yang terluka parah dan hampir putus. Karena merasa terganggu secara tangannya yang hampir putus tersebut, Mu’adz melapaskan tangannya hingga terisolasi dari tubuhnya. Tanpa menghiraukan kesakitannya, Mu’adz terus berlari hingga bertemu Rasulullah. Kemudian Mu’adz memeluk Rasulullah saw صلى الله عليه وسل٠sembari mengabarkan bahwa ia dan Mu’awwidz telah berhasil melukai Abu Jahal.

Setelah itu Rasulullah صلى الله عليه وسل٠memerintahkan Abbdullah bin Mas’ud membongkar-bongkar Abu Jahal. Akhirnya Abu Jahal mati terhina di tangan pemuda saleh bernama Ibnu Mas’ud.

Keberanian dua bani Mu’adz dan Mu’awwidz ini sungguh luar biasa. Kisah mereka dicatat dalam sejarah Islam yang setiap waktu diceritakan di berbagai elok ilmu. Meski usia yang benar belia, mereka sangat mencintai Nabi صلى الله عليه وسل٠dan Islam. Tidak ada rasa curiga bagi mereka dalam menegakkan fakta. ( Baca Juga: Ummu Fadhl, Ibu Pemberani yang Beranak Anak-anak Saleh dan Pandai )

(Bersambung! )