Miring Polisi Ambil Untung dari Proses Yustisi, Akun Facebook di Blitar Diselidiki

Miring Polisi Ambil Untung dari Proses Yustisi, Akun Facebook di Blitar Diselidiki
Oct 24 2020
Kenneth Ross

BLITAR – Tim Cyber Crime Polres Blitar Kota menyelidiki pemilik akun media sosial yang dianggap memojokkan tradisi Polri melalui postingan status dalam grup Facebook.

Akun “Ayahe Himawari” mengunggah status yang intinya menuding polisi mendapat banyak untung dari tilang pelanggaran protokol kesehatan tubuh COVID-19, yakni khususnya terkait penggunaan masker.

“Kami tengah menyelidiki pemilik akun, ” ujar Kasubag Humas Polres Blitar Kota Iptu Ahmad Rochan pada wartawan Sabtu (24/9/2020). Begitu diunggah di grup facebook Informasi Hiburan Blitar, status akun “Ayahe Himawari” langsung dibanjiri komentar. Status dengan memakai bahasa Indonesia dan Jawa itu tertulis “Istilah tahun 2020, polisi untung, pedagang buntung”.
BACA JUGA: Terjebak Razia Masker, Istri Jaksa pada Takengon Aceh Tengah Ngamuk Marahi Petugas

Melalui bahasa Jawa juga dituliskan “Polisi tidak punya uang tinggal keluar mencari orang yang tidak memasang masker, kemudian ditilang dan mampu uang. Sedangkan pedagang kalau tidak ada hiburan tidak dapat uang. Jualan di jalan tidak memakai masker ditilang polisi”.

Dalam statusnya pemilik akun “Ayahe Himawari” pula mengumpat polisi dengan diksi tidak sopan serta menyebut dapat mujur banyak.

Baca Juga:

“Dari penelusuran Tim Cyber Crime didapati beberapa menjepret (di akun) yang mengarah seseorang. Diduga pemilik akun pernah sekolah di Srengat, Blitar, ” sebutan Rochan. Dari data yang dihimpun Sindonews. com, akun “Ayahe Himawari” tercatat bergabung di Facebook berangkat Juni 2011. Pada fitur order, pendidikan dan pernah tinggal, tak ada keterangan apapun alias dikosongi.
BACA SERUPA: Operasi Yustisi Digelar, Satgas Beri Sanksi Ratusan Pelanggar

Foto profil akun menggunakan gambar salah satu karakter di film kartun Naruto. Begitu juga pada foto latar belakang akun. Namun pada fitur koleksi foto terdapat beberapa memotret lelaki muda dengan balita serta perempuan yang dimungkinkan istrinya. Menurut Rochan, saat ini polisi sedang melakukan pendalaman. Apakah postingan kedudukan tersebut masuk kategori hujatan, ujaran kebencian atau kritik.

“Dalam hal ini polisi tetap mengedepankan praduga tak bersalah, ” tegas Rochan. Dalam jalan itu Rochan juga menjelaskan bila operasi yustisi yang digelar, yaitu terutama terkait protokol kesehatan COVID-19, melibatkan lintas institusi. Diantaranya TNI, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Meja hijau, Kejaksaan dan Satpol PP.

Tudingan di media sosial yang menyebut hasil operasi yustisi berupa denda menjadi pendapatan polisi, ditegaskan Rochan tidak benar. “Sebab semua uang denda dari warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan menyelundup ke kas negara melalui persidangan, ” pungkas Rochan.