Perdata Infeksi Ganda Covid-19 dan Dengue

Perdata Infeksi Ganda Covid-19 dan Dengue
Nov 25 2020
Kenneth Ross

Prof Tjandra Yoga Aditama
Guru Besar Paru FKUI, Mantan Direktur WHO SEARO, dan Mantan Dirjen P2P & Kepala Balitbangkes

KITA sudah tiba memasuki musim hujan. Kalau kita lihat data-data tahun yang lalu, di akhir tahun seperti ini maka mungkin saja kasus dengue dan demam berdarah dengue (DBD) akan meningkat. Di pihak lain, kita masih menghadapi pandemi Covid-19 yang kasus dan kematiannya masih terus terjadi. Hal yang tertib kalau kita mengantisipasi kemungkinan terjadinya DBD di waktu di mana kita masih harus konsentrasi menangani Covid-19. Harus diketahui bahwa memang sekarang ada lebih dari 50 juta kasus Covid-19 di dunia, dan di pihak lain di setiap tahunnya diperkirakan ada sekitar 105 juta infeksi dengue di negeri, sebagian tentu di Asia Tenggara, termasuk negara kita.

Infeksi Ganda
Sejak beberapa bulan lalu telah ada beberapa tulisan ilmiah sejak berbagai negara tentang kedua keburukan ini sekaligus. Salah satu keterangan di bulan-bulan pertama pandemi adalah dari Singapura yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Lancet di dalam Maret 2020. Pada dua peristiwa yang mereka laporkan ini mulanya dirawat dengan hasil laboratorium serologi yang menunjukkan dengue positif dan gejala yang sesuai dengan penyakit dengue. Ternyata kemudian hasil lab. itu adalah positif palsu ( false-positive ) serta belakangan kedua kasus ini membuktikan hasil Covid-19 positif.

Contoh lain, pada Agustus 2020 ada laporan kasus yang memang sekaligus mengalami dengue dan Covid-19. Ini terjadi di Reunion Island di lautan India yang cuma berpenduduk 850. 000 orang. Pasiennya dengan gejala demam berkepanjangan, kemerahan (eritema) di kulit, nyeri segenap tubuh, sakit di belakang sembrono, fotofobia (tidak tahan sinar) dan sakit kepala. Dia tinggal pada daerah yang memang ada penyakit dengue, dan baru datang secara pesawat terbang dari Kota Strasbourg di mana di pesawat akhirnya diketahui ada penumpang lain yang Covid-19 (+).

Baca Serupa:

Keluhan pasien ini memang demam, suatu isyarat khas pada kedua penyakit itu. Kita tahu bahwa walaupun tidak terlalu sering, gangguan kulit (eritema dll) memang juga dilaporkan dialami oleh sebagian pasien Covid-19, setidaknya seperti pernah dilaporkan di Italia, Prancis, dan Thailand, sementara kemerahan di kulit juga merupakan salah satu ciri gejala dengue. Berarti, dari kacamata gejala yang timbul memang bisa hampir sama jadinya.

Selain masalah diagnosis penyakit, ada juga hal asing yang kini dihadapi. Pertama, anak obat kini banyak menahan diri buat tidak ke puskesmas, klinik, serta rumah sakit kalau ada keluhan kesehatan karena takut tertular Covid-19. Hal ini dapat saja berdampak kelambatan diagnosis DBD dengan bervariasi masalahnya. Ini tentu tidak baik. Jika memang diperlukan kita lestari harus memeriksakan diri, tentu secara protokol kesehatan yang ketat.

Kedua, petugas kesehatan klub yang biasa menangani dengue juga mungkin kini juga beralih suruhan untuk menangani Covid-19, sehingga penanggulangan vektor (dalam hal ini utamanya nyamuk) menjadi relatif terkendala. Kejadian ini dapat menyebabkan nyamuk demam berdarah terus merebak dan kita akan makin menghadapi masalah DBD di masyarakat. Memang pernah ada laporan ilmiah juga yang menuturkan bahwa infeksi dengue mungkin memberi semacam imunitas bagi Covid-19, tapi data pendukungnya masih amat terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut.

Hal lain yang juga memikat adalah kebijakan lockdown pada Covid-19 yang menutup tempat kerja dan melarang kerumunan sehingga orang lebih banyak berada di lingkungan rumahnya. Penyelidik dari Singapura meneliti kemungkinan pengaruh kebijakan tersebut terhadap terjadinya dengue di Singapura, Malaysia, dan Thailand, yang hasilnya dilaporkan di jurnal ilmiah pada Oktober 2020. Hasilnya menunjukkan peningkatan kasus dengue yang nyata di Thailand, tapi tak terjadi di Singapura dan Malaysia, walaupun data lanjutan menunjukkan kalau tampaknya ada kenaikan juga dalam Singapura. Tim peneliti ini terpendam bahwa perbedaan kebijakan social distancing dan perbedaan pola struktur rumah serta tempat kerja di tiga negeri ini membuat hasil yang berbeda dari dampak lockdown pada kejadian dengue di masyarakat.