Perjuangan Penderita Komorbid Melawan COVID-19

Perjuangan Penderita Komorbid Melawan COVID-19
Nov 01 2020
Kenneth Ross

BOGOR – Sudah 4 hari Petrus Tjandra terbujur di salah satu rumah melempem, menyusul isterinya (Paula) yang telah lebih dulu positif terpapar virus corona.

Direktur sebuah perusahaan tambang ini adalah seorang pekerja keras sejak muda. Pada setiap hari tidak setidaknya dia bersemuka 10 orang per hari, akan tetapi kini dia tergolek sendirian di ranjang sebuah rumah sakit & hanya bertemu dengan tenaga medis. (Baca juga: Sebanyak 67. 900 Orang Dinyatakan Suspect Covid-19)

Itupun sangat terbatas. Tidak setiap zaman mereka bisa dipanggil. Stress bertambah menyiksa dibandingkan demam dan hilangnya rasa pengecap dan penciuman. (Baca juga: Apresiasi Penyajian Rumah Sakit, Menkes: Tidak Sudah Padam Melayani Pasien)

Kakek berumur 60 tarikh dengan 4 orang cucu tersebut sadar bahwa imunnya akan kian merosot jika mental terus menurun.

Baca Juga:

“Saya tidak akan menyerah. Saya pasien komorbid & usia lanjut. Risiko kematiannya agung. Tapi saya optimis sembuh. Terus berdoa dan berserah diri pada Tuhan, ” ujar Petrus era berbicara melalui telepon, Minggu (1/11/2020).

Petrus mengakar rumah sakit pada tanggal 30 Oktober pukul 20. 00., beberapa jam setelah menjalani pcr test dan dinyatakan positif. Isterinya, Paula, positif corona tanggal 28 Oktober. Petrus termasuk kategori pasien karakter tanpa gejala (OTG). Tanggal 14 Oktober 2020, Petrus menjalani swab test, karena harus bertemu secara seorang menteri.

Hasilnya negatif. Seluruh protokol kesehatan tubuh secara ketat dia jalani. Apalagi setiap pekan melakukan rapid test mandiri. Toh, akhirnya dia terpapar virus corona juga.

“Sejak pandemi terjadi, saya aktif mengaduk-aduk tahu soal virus corona. Kesimpulannya ketemulah istilah kormobid yakni klan pasien dengan penyakit bawaan, sesuai jantung, diabetes, hipertensi, ” ujar Petrus.