Perkuat Hubungan Bersama Anak secara Menjadi Orang Tua dengan Responsif

perkuat-hubungan-bersama-anak-dengan-menjadi-orang-tua-yang-responsif-1
Jun 28 2021
Kenneth Ross

JAKARTA – Para-para karakter tua saat ini kembali dihadapkan pada tantangan dalam situasi pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir, dan bahkan kembali meningkat kasusnya. Untuk itu, istimewa bagi wali untuk sanggup mengelola stress yang dihadapi, agar kemudian dapat melaksanakan tugas penting yaitu mendirikan hubungan yang kuat secara anak di masa pandemi.

Hal itu terungkap dalam webinar peringatan Hari Suku Nasional bertajuk “Apa Kabar Tanggungan Kita” yang diadakan sebab Wahana Visi Indonesia, Sabtu (26/6). Psikolog keluarga, Pritta Tyas mengatakan, ketika bertemu berbagai perubahan di awal masa pandemi, banyak keluarga mengalami tekanan.

Setelah 5-6 kamar berjalan dan mulai berdaptasi, juga mulai memperoleh jalan dengan akan dibukanya sekolah, kini orang tua seperti kembali terkena hantaman dan kudu berjuang lagi.

“Banyak orang tua mengalami burn out, kemudian sulit mengendalikan emosi di depan anak-anak. Padahal anak-anak juga merasai tekanan dan stres yang sama. Oleh karena tersebut, pertama-tama penting bagi karakter tua untuk mengelola stressnya lebih dulu. Orang primitif perlu mengenali apa yang dirasakan. Live the present moment. Kalau tidak berharta mengelola stress sendiri, tanpa ragu untuk mendatangi profesional, ” kata Pritta.

Baca Serupa:

Mengelola stres ini penting bagi orang sampai umur, karena menurut Pritta tersedia tugas berat orangtua yaitu
membangun hubungan dengan kuat dengan anak-anak, yang menjadi pondasi di masa pandemi. Hubungan yang kuat antara orangtua dengan anak-anak, berdasarkan hasil penelitian, mau mengaktifkan sambungan-sambungan saraf di otak anak. Sambungan-sambungan saraf inilah yang dibutuhkan anak-anak untuk belajar dengan maksimal.

“Untuk tersebut, orang tua harus menjelma orangtua yang responsif, yang peka dengan kebutuhan bani, peka dengan apa yang dirasakan anak, dan siap sepenuhnya untuk anak walaupun hanya di waktu-waktu terbatas. Kemudian, penting bagi orangtua menciptakan kestabilan dalam suku, dengan pengelolaan emosi yang tepat. Sehingga, walaupun ada banyak persoalan yang dihadapi, termasuk menghadapi anak yang berbuat salah, orangtua langgeng dapat berusaha untuk tenang dan melakukan tindakan dengan tepat tanpa menghakimi bujang, ” tutur Pritta.