Tembak Mata Bocah 9 Tahun Palestina, Polisi Israel Tak Diadili

Tembak Mata Bocah 9 Tahun Palestina, Polisi Israel Tak Diadili
Dec 07 2020
Kenneth Ross

YERUSALEM – Kementerian Kehakiman Israel mengatakan tidak akan mengadili petugas polisi yang terlibat dalam penembakan mata kiri bocah berusia 9 tahun asal Palestina . Keputusan ini menyedihkan bagi keluarga korban, karena bocah itu sudah kehilangan mata kirinya.

Pihak keluarga mengatakan Malek Issa terkena peluru tidak mematikan yang digunakan pasukan polisi Israel buat pengendalian massa pada Februari 2020 saat dia membeli sandwich. (Baca: IRGC: Ilmuwan Nuklir Iran Dibunuh Senjata Canggih yang Dikontrol Satelit )

Insiden itu terjadi pada lingkungan Yerusalem di Issawiya, bagian timur kota yang didominasi Palestina, yang direbut Israel pada tahun 1967.

Polisi Israel saat itu mengatakan mereka menanggapi kerusuhan di daerah tersebut.

Baca Juga:

Kementerian Kehakiman mengatakan bahwa sesudah penyelidikan menyeluruh, departemen urusan internalnya menyimpulkan tidak ada cukup fakta untuk mengajukan tuntutan pidana. Kasus penembakan ini juga ditutup.

Menurut departemen tersebut, aparat polisi yang diduga menembakkan peluru itu sedang menghadapi perlawanan termasuk para pelempar batu terhadap pasukan Israel yang sedang dalam perjalanan untuk melakukan penangkapan.

“Selama kegiatan, peluru spons ditembakkan ke dinding, yang tidak depan dengan tempat anak itu berdiri, ” bunyi keputusan departemen tersebut yang dikutip dari AFP , Senin (7/12/2020). (Baca juga: Pengacara Kepala Trump Rudy Giuliani Positif Covid-19 )

Departemen tersebut mengutarakan penyelidikan medis tidak dapat menyingkirkan kemungkinan bahwa Issa kehilangan matanya akibat lempara batu, dan tidak akibat peluru spons.

Petugas polisi yang menembakkan peluru dibebaskan dari tanggung jawab kejahatan. Departemen urusan internel Kementerian Yustisi menyerukan penyelidikan polisi atas insiden tersebut, termasuk mengenai penggunaan senapan spons selama kegiatan operasional dalam dekat warga sipil.

“Ini adalah kejadian serius serta menyedihkan yang terjadi selama kesibukan operasional, ” imbuh keputusan departemen tersebut.